Bila Koas dan Dokter bertukar cerita tentang
keseharian hidup dan permasalahan yang digeluti, akan sangat menarik mendapati
bahwa disana juga terdapat beraneka ragam narasi, ironi, kelucuan, kegembiraan,
kesedihan dan tentu saja hikmah kehidupan.


Para dokter dari yang masih pendidikan di rumah sakit hingga yang terdampar di pelosok
kepulauan Indonesia, adalah terdiri dari beraneka ragam kepribadian dan kelemahan-kelemahan manusiawi. Meski begitu, karya mereka dituntut berkualitas sesempurna buatan dewata, berpolah sehalus bidadari dan beretika nabi-nabi.


Nun dekat maupun jauh di pelosok sana, di hamparan puak-puak, suku-suku dan manusia modern kota besar, berjejal insan-insan yang menanti bakti mereka.
Seperti petikan sebuah lagu banyolan dari masa plonco : di kota dan di desa, mengabdi bagiku sama saja

Maka kami dedikasikan blog ini sebagai tempat singgah maya bagi rekan sejawat untuk saling bertukar kisah dan pengalaman, bertukar informasi mengenai kondisi kesehatan anak bangsa di berbagai penjuru negeri, berbagi ilmu dan kebijaksanaan sekaligus tentu saja sebagai sarana silaturrahmi.

Hingga boleh suatu saat kita berkata, di dunia mayapun kami mengabdi.



Senin, 13 September 2010

Berangkatlah...


Berangkatlah kawan…jangan berdiam lebih lama, jejaki tanah-tanah yang jauh, di tanah yang asing, tempat yang bahkan namanya tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jangan berikan rasa ragu pada langkah itu, bebaskan ia mengalir, seperti arus yang merindukan lautan, bergerak tak gamang dan tanpa rasa takut.


Tak perlulah khawatir, sebab di sana teriknya tak berbeda dengan hangat mentari yang menggantung di langit kita setiap hari di sini, angin dan badainya akan menjadi kenangan suka duka mengharukan yang akan membuatmu menjadi lebih kuat, orang-orangnya akan menjadi sahabat dan saudaramu yang baru, tempat berbagi dan menyerap pelajaran tentang makna persaudaraan.



Lalu bagaimana dengan kerinduan, kepada orang-orang tercinta, orang tua, guru, para sahabat, atau siapapun mereka yang telah mengambil tempat di hati terdalam? Satu dua hari mungkin ia akan mengganggumu, ini memang sangat manusiawi kawan. Tapi berikutnya engkau akan terbangun pada sebuah pagi dengan tekad yang sadar bahwa karya harus segera di mulai. Dan setelah itu kerinduanmu akan berubah menjadi doa-doa yang kuat. Menjelma menjadi nyala yang membakar semangatmu.



Di perjalanan itu akan engkau temukan saripati kehidupan, ketika hadir pada kenyataan hidup yang sesungguhnya, melihat sendiri, mendengarkan sendiri, dan ikut merasakan sendiri tanpa perantara sebagaimana apa yang mereka rasakan, larut bersama mereka yaitu orang-orang yang paling berhak atas amanat yang tersemat di pundak kita. Akan engkau temukan bahwa hidup ini jauh lebih pelik dari yang pernah dibicarakan buku-buku teks terlengkap sekalipun.



Dan jangan lupa gembirailah persinggahan-persinggahanmu, pada riak gelombang, pundak-pundak bukit sampai ceruk sungai yang jauh, ataukah jalan yang mengular di padang sabana yang luas, nikmati semua, dan temukan hikmah di sana, di setiak jejakmu, pada tanah, laut, angin atau orang-orangnya, temukan padanya makna bersayap-sayap yang akan membawamu semakin meninggi ke maqam kearifan.

Bergeraklah untuk merebut mimpi dan menggenapkan serpihan takdirmu, sekaligus membumikan ilmu dan pengabdian, di perjalanan itu engkau juga pada akhirnya akan mengerti bahwa salah satu pintu memasuki kebahagiaan hidup yaitu melalui ketulusan berbagi dan memberi. Bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita rasakan di dalam diri ketika bisa membuat orang lain berbahagia.



Lalu dari tempat-tempat yang jauh itu, engkau pun akan membagi cerita tentang pengalaman, tentang semangat dan idealisme yang tak boleh surut, atau tentang apa saja yang akan menjadi saksi bahwa di bawah matahari selalu ada anak muda yang siap mengabdi untuk kemanusiaan.-n



*Untuk seorang kawan yang segera memulai jalan pengabdiaanya di sebuah kota di timur tenggara, Manggarai NTT. Salama’ki dottoro

Rabu, 14 Juli 2010

Pohon Di Tepi Jalan


Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, tumbuh ia dari benih unggulan, berasal dari hutan yg jauh, bijinya diterbangkan oleh burung pengelana, lalu jatuh ke semak tak bertuan, pada sebuah tanah yg dipilihkan Tuhan. Beranjak besar ia oleh asuhan alam, diguyur hujan dan di panggang matahari, musim telah membimbingnya menjadi kuat, akarnya menukik ke pusat gravitasi, batangnya kokoh seperti pilar istana, dahan rantingnya layaknya tangan-tangan yang berdoa gemulai menghadap ke langit. Sekali dua kali ia patah, namun ia tak menyerah, berganti dahan yang lebih indah dan lebih kuat. Daun-daunnya rimbun bergoyang seperti bernyanyi, lebih tepatnya berdzikir; bertasbih memuji.

Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, bebas berdiri berdamai dengan kehidupan, menghirup udara yang bersih, menghisap air dan saripati yang suci. Merdeka tanpa seteru dan sengketa. Bersahabat dengan siapa saja. Bila hujan datang ia tahu bahwa itu sumber kebaikan, bila kemarau tiba ia sadar itu kesempatan untuk belajar bertahan, bila badai berkunjung ia mengerti alam hendak mengajarnya menjadi kuat, bila petir menyambar ia paham saatnya belajar tentang keteguhan dan keberanian. Bahwa setiap kehendak Tuhan datang dengan sebuah alasan, datang untuk membawa kebaikan.

Aku ingin seperti pohon di tepi jalan, bersyukur dan berbahagia atas kehidupan. Senang bila burung berkunjung, gembira bila musafir berteduh, tak mengusik serangga yang membuat sarang pada rantingnya. Hadir ia untuk memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kehidupan. Akar dan kulitnya adalah obat, dahan dan rantingnya serba guna, daunnya menjadi pabrik oksigen yg begitu penting, bunganya adalah hiasan, juga buahnya lezat bukan mainan. Bahkan bila mati pun ia kembali menjadi pupuk bagi alam. Ia adalah sumber inspirasi kebaikan.

Aku ingin seperti pesan ayahanda Abu Bakar As Siddiq; " Hiduplah engkau seperti pohon yg tumbuh di tepi jalan, dilempari ia dengan batu, lalu dibalasnya dengan buah." Bagaimana denganmu kawan?-n

Senin, 10 Mei 2010

Catatan Anak Asrama; Selamat Datang Bang...


Ini hanyalah catatan lepas tentang seorang laki-laki yang telah bersahabat dengan kerasnya tempaan kehidupan, yang masa kecilnya dihabiskan bermain diantara padang dan ilalang tanah Bima, beranjak besar diantara sawah dan ladang bawang yang menghijau. Berteman dan berlarian bersama kuda-kuda liar Sumbawa. Kisah hidupnya adalah perjalanan yang mengharukan, narasi tentang perjuangan dan semangat hidup yang sangat mengagumkan, tak mudah patah dan tak mengenal kata mengeluh. Hingga saya berpikir sungguh layak suatu waktu kelak memuat perjalanan hidupnya dalam sebuah buku.
Saya mulai mengenalnya dengan dekat ketika bergabung menjadi warga Asrama Medica, seorang laki-laki berperawakan kecil dengan warna kulit coklat menjelang gelap, di awal masuk asrama hampir tak pernah lepas memakai sarung merah jambu motif kotak-kotak khas Bima, bertelanjang dada dan sangat gemar berteriak dengan suara khas yang sangat terkenal di asrama. Yang entah berapa lama kemudian berubah penampilan menjadi laki-laki yang sangat santun dalam berpakaian, berkemeja rapi yang ujung dimasukkan ke dalam celana, digenapkan dengan kacamata minus dan sepatu kulit di semir halus, mungkin ingin menjiwai penampilan layaknya anak kedokteran sejati.
Laki-laki yang kemudian bagi saya tak hanya menjadi seorang teman asrama, tapi sekaligus menjadi sahabat, saudara bahkan tempat berguru tentang banyak hal. Walau tak pernah menjadi teman satu kamar namun sangat sering tidur berbagi bantal dan kasur dengannya. Sekian tahun bersamanya, suka duka, canda tawa dan teriakan khasnya, dan juga petuah-petuahnya saat berdiskusi dan juga bersenda gurau adalah kenangan indah yang selalu lekat dan tak terlupakan. Sedih adalah perasaan waktu itu, ketika ia harus pulang ke kotanya, di sebuah pulau yang jauh di bagian timur tenggara nusantara. Menyempurnakan pengabdian di sana, di tanah lahirnya.
Lama tak terdengar berita, ketika tugas memintanya mengabdi di pelosok yang jauh, di bawah bayang-bayang gunung Tambora yang legendaris itu. Seperti tertelan kesunyian di sana, tempat yang tak terjangkau signal-signal telekomunkasi mutakhir. Walau sempat kemudian terdengar kabar bahwa tempat tugasnya di amuk gempa dan rumah dinasnya ikut rubuh, tapi ia tak ingin berajak dari tempat itu meski tim evakuasi telah tiba, ia memilih untuk bertahan membantu sebisanya para korban yang tersisa.Ternyata Ia masih keras kepala seperti yang dulu, lelaki berperawakan kecil dengan semangat menolong sebesar gunung.
Ini mengingatkan pada sebuah ekspedisi pada bencana longsor dan banjir di Sinjai Sulawesi selatan tahun 2006 yang silam dibawah bendera PKPU. Menyusuri pegunungan Sinjai barat mendekati perbatasan Gowa berjalan kaki melewati reruntuhan longsor sekian hari tanpa perlengkapan memadai dan makanan yang cukup, perjalanan yang berat dan berisiko dipandu tim SAR Sinjai, menolong dan mengevakuasi korban yang paling jauh dan belum tersentuh pertolongan medis sama sekali, Ia lah salah satu anggota tim yang paling tangguh, dengan semangat yang meluap-luap. Semakin berat medannya semakin tertantang ia untuk mengalahkannya. Ia memang laki-laki bersahaja yang tak kenal kata menyerah.
Dalam banyak hal, saya masih saja mengaguminya, meski kini ia jauh dan dan tak pernah bersua lagi. Sampai tiba-tiba namanya muncul di facebook, seperti salah satu kegilaannya di asrama yakni sering diam-diam muncul dari jendela pada tengah malam lalu tiba-tiba berteriak atau tertawa-tawa. Ia memang lelaki langka dan unik. Saya buatkan saja tulisan ini sebagai ucapan selamat datang kepada salah satu sahabat terbaik. “Selamat datang bang Gani…akhirnya turun gunung juga…he..he..” -n

*Untuk abang kami dr.Gani; Salam hormat dan rindu

Bunta Banggai, Ahad 25 April 2010